
Seoul – Jepang tidak sendiri dalam menghadapi penurunan populasi penduduk. Bersama Korea Selatan, kedua negara ini mulai mengubah desa-desa yang ditinggalkan menjadi hotel terdesentralisasi sebagai bagian dari upaya revitalisasi pedesaan.
Pekan ini, Kementerian Pertanian, Pangan, dan Urusan Pedesaan Korea Selatan menggelar “Forum Regenerasi Rumah Kosong Pedesaan” selama dua hari di Myeongyeong, Provinsi Gyeongsang Utara. Forum ini mempertemukan pembuat kebijakan daerah dan pelaku inovasi swasta untuk membahas meningkatnya jumlah properti terbengkalai di wilayah pedesaan.
Dikutip dari Korea Times pada Kamis (23/4/2026), salah satu tamu kehormatan dalam forum tersebut adalah Shunpei Shimada, CEO Satoyume Corp., perusahaan konsultan asal Jepang yang fokus pada revitalisasi wilayah. Dia juga merupakan penggagas proyek hotel desa di Desa Kosuge, yang kini menjadi salah satu model sukses regenerasi pedesaan di Jepang.
Konsep yang diusung adalah “hotel desa”, satu desa berfungsi layaknya sebuah hotel terpadu. Rumah kosong yang terbengkalai diubah menjadi resepsionis, rumah lain menjadi kamar tamu, pemandian umum dijadikan spa, sementara warga lokal berperan sebagai staf restoran dan layanan bagi wisatawan.
Model ini terbukti berhasil di Kosuge, sebuah desa terpencil yang sebelumnya hampir ditinggalkan penduduknya. Kini, desa tersebut mampu menarik sekitar 180.000 pengunjung setiap tahun.
Nah, Korea Selatan mengadopsi pendekatan serupa. Di Mungyeong, pemerintah mengunjungi Sanyang Jeonghaengso, bekas pabrik bir yang telah diubah menjadi ruang budaya multifungsi. Tempat ini memadukan produk pertanian lokal dengan konsep kafe modern, dan berhasil menarik sekitar 60.000 wisatawan dalam satu tahun terakhir.
Keberhasilan ini menunjukkan sinergi antara kreativitas sektor swasta dan dukungan kebijakan pemerintah. Untuk mempercepat transformasi ini, pemerintah Korea meningkatkan subsidi pembongkaran rumah kosong menjadi hingga 16 juta won per unit, lebih dari dua kali lipat sebelumnya.
Selain itu, program Bank Rumah Kosong juga diperluas. Platform daring ini menghubungkan properti terbengkalai dengan warga kota yang ingin pindah dan memulai usaha di daerah.
Langkah berikutnya diarahkan ke Pulau Jeju, di mana “Desa Startup” di Distrik Hankyeong akan mengubah 15 rumah kosong menjadi ruang kerja bersama dan hunian jangka panjang bagi pekerja digital nomaden.
“Sangat penting untuk memandang rumah-rumah kosong bukan sebagai aib, tetapi sebagai sumber daya regional,” kata Jeon Han-young, direktur Biro Kebijakan Pedesaan kementerian.
Dengan kebijakan baru yang tengah disiapkan, Korea Selatan berharap transformasi ini tidak hanya menghidupkan kembali desa-desa yang sepi, tetapi juga menarik generasi baru untuk tinggal dan berkarya di wilayah pedesaan.