Di tengah pelemahan harga saham, BCA tetap mencatat pertumbuhan laba, kredit, dan dana pihak ketiga pada kuartal I 2026.
KABARBURSA.COM – Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat turun sekitar 25,08 persen sejak awal tahun 2026 ke level Rp6.050.
Penurunan ini terjadi di tengah kinerja fundamental perusahaan yang masih mencatat pertumbuhan pada kuartal I 2026.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan kinerja perseroan pada awal tahun tetap terjaga, didorong momentum musiman dan aktivitas bisnis yang meningkat.
“Kami optimistis menjaga kinerja BCA tetap solid di tengah kondisi global yang dinamis melalui pengembangan berbagai lini bisnis secara pruden,” ujar Hendra dalam siaran pers dikutip, Minggu, 26 April 2026.
Sepanjang kuartal I 2026, BCA membukukan laba bersih sebesar Rp14,7 triliun. Penyaluran kredit tumbuh 5,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp994 triliun hingga Maret 2026, ditopang oleh segmen produktif yang mencapai Rp760,2 triliun atau naik 7,8 persen.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tercatat Rp1.292,4 triliun atau tumbuh 8,3 persen secara tahunan. Komposisi dana murah atau CASA mencapai Rp1.089 triliun dengan porsi dominan 85,2 persen dari total DPK.
Penyaluran kredit juga mencerminkan fokus pada pembiayaan berkelanjutan. Kredit ke sektor berbasis ESG mencapai Rp258,4 triliun atau setara 26 persen dari total portofolio, sementara kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tumbuh 12 persen menjadi Rp146 triliun.
Di sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah tetap terjaga. Non-performing loan (NPL) berada di level 1,8 persen, sementara loan at risk (LAR) tercatat 5,1 persen dengan rasio pencadangan masing-masing 174,6 persen dan 69,7 persen.
Secara profil, BCA merupakan bank swasta terbesar di Indonesia yang fokus pada layanan transaksi, kredit, dan solusi keuangan untuk berbagai segmen.
Perseroan didukung jaringan luas dengan lebih dari 1.200 kantor cabang dan puluhan ribu ATM.
Struktur kepemilikan saham BCA didominasi PT Dwimuria Investama Andalan dengan porsi sekitar 54,94 persen. Sementara porsi free float berada di kisaran 42,59 persen, mencerminkan likuiditas saham yang relatif tinggi di pasar.
Di jajaran manajemen, BCA dipimpin oleh Gregory Hendra Lembong sebagai Presiden Direktur, didampingi sejumlah direktur termasuk Armand Wahyudi Hartono dan John Kosasih. Struktur ini menunjukkan kombinasi pengalaman panjang di industri perbankan.
Pergerakan saham yang masih berada dalam tekanan terjadi bersamaan dengan kondisi pasar yang fluktuatif. Meski demikian, kinerja operasional BCA pada awal tahun tetap menunjukkan pertumbuhan di berbagai lini bisnis.
Performa Saham BBCA, Seperti Apa?
Namun di pasar saham, tekanan masih terlihat dalam jangka pendek. Pada perdagangan terakhir, BBCA ditutup di level Rp6.050 atau turun 5,84 persen dalam sehari.
Dalam sepekan, saham ini juga melemah dengan tren penurunan bertahap sejak awal pekan. Saham ini tercatat melemah 5,84 persen.
Jika ditarik sejak awal tahun, koreksi saham BBCA mencapai sekitar 25 persen. Pergerakan harga menunjukkan tren turun dari kisaran di atas Rp8.000 pada awal Januari menuju area Rp6.000-an pada akhir April.(*)