Dieng, Negeri di Atas Awan Tempat Bersemayam Para Dewa
Jakarta – Tak hanya indah, Dieng juga memukau dengan dengan sederet fakta yang dimiliki. Daerah itu memiliki embun es langka hingga candi tertua dan tradisi mistis yang masih bertahan.
Pernahkah membayangkan sebuah tempat di Indonesia yang dijuluki sebagai negeri di atas awan? Atau tempat yang memiliki suhu mendekati nol derajat, sekaligus menyimpan jejak peradaban kuno? Semua itu bisa ditemukan di Dataran Tinggi Dieng.
Terletak di ketinggian sekitar 2.090 meter di atas permukaan laut, Dieng bukan sekadar destinasi wisata alam biasa. Kawasan ini menawarkan perpaduan unik antara keindahan lanskap pegunungan, fenomena alam yang langka, hingga kekayaan budaya dan sejarah yang telah ada sejak ratusan tahun lalu.
Tak heran jika Dieng selalu menarik perhatian wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Di balik pesonanya, tersimpan berbagai fakta menarik yang membuat kawasan ini begitu istimewa, penasaran apa saja? Berikut detikTravel rangkum untuk kalian:m.
Fakta-fakta Dieng
Merangkum informasi dan arsip detikTravel dan sejumlah sumber lain, berikut 12 fakta Dataran Tinggi Dieng yang wajib kamu ketahui:
1. Terletak di Dua Kabupaten
Dieng secara administratif berada di dua wilayah, yakni Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Kondisi ini membuat kawasan Dieng dikelola secara bersama oleh dua pemerintah daerah, baik dari sisi pariwisata maupun pelestarian lingkungan.
Fakta ini juga diperkuat oleh penetapan kawasan Dieng sebagai geopark nasional yang melibatkan dua wilayah tersebut.Wisatawan yang datang pun dapat mengakses berbagai objek wisata dari dua arah berbeda tanpa terasa adanya batas administratif.
2. Tempat Bersemayam Para Dewa
ama Dieng berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu “Di” yang berarti tempat tinggi dan “Hyang” yang berarti dewa. Secara makna, Dieng dikenal sebagai tempat bersemayam para dewa. Hal ini tidak lepas dari sejarahnya sebagai pusat aktivitas keagamaan pada masa Hindu kuno. Kompleks candi yang ada di kawasan ini menjadi bukti bahwa Dieng pernah menjadi lokasi sakral untuk pemujaan.
3. Dijuluki Negeri di Atas Awan
Dieng berada di ketinggian sekitar 2.090 meter di atas permukaan laut, sehingga sering diselimuti kabut tebal. Kondisi ini menciptakan pemandangan seolah-olah berada di atas awan.
Saat pagi hari, kabut perlahan terbuka dan memperlihatkan panorama pegunungan yang dramatis. Momen ini menjadi salah satu daya tarik utama wisatawan. Fenomena kabut dan suhu dingin ini juga berkaitan dengan kondisi geografis dataran tinggi Dieng.
4. Desa Tertinggi di Pulau Jawa
Di kawasan Dieng terdapat Desa Sembungan yang dikenal sebagai desa dengan ketinggian tertinggi di Pulau Jawa. Berada di sekitar 2.300 meter di atas permukaan laut, desa ini menyuguhkan pemandangan alam yang indah berupa terasering sawah dengan latar perbukitan hijau serta udara pegunungan yang sejuk.
Keindahan dan daya tariknya tersebut membuat Desa Sembungan mendapat pengakuan di tingkat nasional. Desa ini bahkan berhasil meraih penghargaan sebagai salah satu Desa Terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.
5. Fenomena Embun Es yang Langka
Dataran Tinggi Dieng memiliki fenomena embun es atau frost yang terbentuk akibat suhu udara yang sangat dingin. Mengacu pada penjelasan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), embun es terjadi ketika uap air di udara mengalami kondensasi lalu membeku karena suhu yang turun hingga mendekati atau di bawah titik beku. Akibatnya, terbentuk lapisan es tipis yang menyelimuti tanaman, tanah, hingga permukaan benda lainnya.
Fenomena frost ini umumnya muncul di wilayah dataran tinggi seperti Dieng saat kondisi cuaca tertentu terpenuhi, terutama pada musim kemarau sekitar Juni hingga Oktober. Meski terlihat seperti salju, kemunculan embun es ini biasanya hanya berlangsung dalam waktu singkat dan bergantung pada suhu ekstrem yang terjadi di kawasan tersebut.
6. Punya 22 Kawah
Dieng merupakan kawasan vulkanik aktif yang memiliki banyak kawah, sekitar 22 titik. Kawah-kawah ini terbentuk akibat aktivitas magma di bawah permukaan bumi.
Setiap kawah memiliki karakteristik berbeda, mulai dari yang mengeluarkan uap panas hingga gas beracun. Keberadaan kawah ini menjadi alasan mengapa Dieng ditetapkan sebagai kawasan geopark nasional.
7. Memiliki Deretan Candi
Di Dieng terdapat kompleks candi kuno seperti Candi Arjuna yang merupakan peninggalan Hindu tertua di Indonesia. Candi-candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-7 hingga ke-8 Masehi. Keberadaannya menunjukkan bahwa Dieng pernah menjadi pusat keagamaan penting di masa lampau.
8. Anak Bajang Berambut Gimbal
Fenomena anak berambut gimbal di Dieng menjadi tradisi yang unik dan masih dijaga hingga kini. Rambut tersebut tumbuh secara alami dan dipercaya memiliki makna spiritual.
Masyarakat setempat meyakini bahwa rambut ini tidak boleh dipotong sembarangan. Harus ada ritual khusus yang disebut ruwatan. Tradisi ini menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Dieng hingga saat ini.
9. Golden Sunrise
Dieng memiliki salah satu spot matahari terbit terbaik di Indonesia, salah satunya di Bukit Sikunir. Dari puncak bukit, pengunjung dapat melihat matahari terbit dengan warna keemasan yang memukau.
Pemandangan ini sering disebut sebagai “golden sunrise.” Fenomena ini menjadi alasan banyak wisatawan datang sejak dini hari ke Dieng.
10. Memiliki Kawah Aktif dengan Aktivitas Vulkanik
Salah satu kawah aktif di Dieng adalah Kawah Sikidang yang terus mengeluarkan uap panas dan gas. Dieng merupakan kawasan vulkanik yang masih aktif. Bahkan, titik keluarnya gas di kawah ini bisa berpindah-pindah.
11. Punya Telaga Warna yang Bisa Berubah
Telaga Warna terkenal karena airnya dapat berubah warna. Perubahan ini dipengaruhi oleh kandungan mineral serta pantulan cahaya matahari. Warna air bisa tampak berbeda dalam waktu tertentu. Fenomena ini menjadikan Telaga Warna sebagai salah satu ikon wisata Dieng.
12. Peristiwa Gas Beracun yang Kelam
Dibalik keindahannya, Dieng juga memiliki sejarah kelam terkait gas beracun dari kawah. Gas seperti karbondioksida dapat muncul dari aktivitas vulkanik dan berbahaya bagi manusia.
Peristiwa ini pernah terjadi pada tahun 1979 dan menewaskan 149 korban jiwa. Hingga kini aktivitas Dieng masih berada dalam pantauan ahli vulkanologi dan pemerintah Indonesia.
